Rabu, 20 Juni 2012

Dia



Sebelumnya, perkenankan saya memperkenalkan dia yang setahun lebih ini mengisi hari- hari saya:

Sore hari setelah kuliah usai
Dia adalah Indra. Sebulan lebih tua dari usia saya. Dia merupakan teman kelas saya. Yah, orang- orang mungkin menyebutnya cinlok. Haha. Kurang lebih seperti itu. Kami diakrabkan oleh suatu perjalanan liburan ke Malino April tahun lalu. Beberapa waktu sebelum perjalanan itu, kami hanyalah teman biasa. Taruhlah, kami memang bertemu nyaris setiap hari. Tetapi kami sangat jarang mengobrol, bertegur sapa pun secukupnya saja. 

Sampai perjalanan ke Malino, kami berboncengan. Dan pembicaraan pun mengalir begitu saja. Pernahkah anda merasakan bertemu dengan orang dimana anda bisa menceritakan setiap hal padahal anda tidak begitu akrab dengan orang tersebut sebelumnya? Bagaimana setiap hal dapat dengan mudahnya keluar dari mulut anda, dan mengharapkan pembicaraan tersebut tidak cepat berakhir? 
Kurang lebih seperti itulah yang saya rasakan dulu.

Saya merasa begitu nyaman dengan perjalanan yang saya lewati dengannya.
Bercerita.
Bercanda tawa.
Dan merasa seharusnya saya bisa bercerita dan akrab dengannya dari dulu.
Berdo'a semoga saja perjalanan ini tidak cepat berakhir.

Dia berada di sekitar saya. 
Tapi saya baru saja menemukannya.
Menemukannya setelah perjalanan itu.
Perjalanan yang membuat saya jatuh. 
Sesuatu yang ditertawakan oleh sahabat saya, karena saya tidak bisa membuktikan bahwa 'fall in love' kepada orang yang sekelas dengan kita adalah hal yang tidak mungkin.

Yah, setelah perjalanan itu, semuanya berubah menjadi kaku.
Setiap bertemu dengannya, sangat sulit buat saya untuk menjadi biasa.
Kami sangat menghindari kontak mata yang membuat kami sama- sama menjadi salah tingkah.
Pembicaraan, bahkan sekedar tegur sapa terasa sangat jarang.
Kami merasa canggung satu sama lain.

Sampai hampir sebulan setelah perjalanan itu, kami resmi berpacaran.
30 April 2011 di sebuah kelas setelah kuliah usai.

Berpacaran dengan orang yang berusia sama dengan kita bukanlah perkara yang mudah.
Kami mempunyai ego yang sama.
Emosi yang sama.
Tidak jarang kami bertengkar karena hal- hal kecil. Lalu baikan beberapa jam kemudian.
atau beberapa hari kemudian.
Terlebih, kami berada di dunia yang sama.
Kami sekampus, kami sekelas, kami sepeminatan K3, kami mempunyai teman- teman yang sama, keseharian yang sama, dan kegiatan yang hampir sama.

Persamaan memang menyatukan kita, tapi tidak jarang justru menjadi hal yang menghalangi kami berdua.
Semoga suatu saat, segala halangan dan rintangan itu dapat kami jalani dan hadapi bersama.
Amin.

                                                                          Sebuah cafe, sesaat setelah tugas kuliah selesai.

                                                                                                                                  -Nisha



2 komentar: