Hai blog.
Tepat dua tahun. Time flies yaa?
No.
Setiap detik ini terasa. Berganti ke menit hingga 17 Februari
2013 bergulir ke 17 Februari 2015. Perempuan ini masih menanti di pesisir.
Sebelumnya, maaf. Saya memang sangat melankolis. Anda ingin bilang lebay? Silakan. Itu terserah anda.
Perempuan ini terduduk, memandangi satu persatu perahu yang tengah berlayar di samudera itu. Beraneka ragam perahu dengan bermacam rupa, bentuk, dan ukuran. Beberapa perahu bergoyang ke kiri dan ke kanan di terpa ombak dan angin. Perahu-perahu itu berlayar menuju sebuah pulau. Pulau yang menjadi tujuan akhir dari setiap perahu-perahu tersebut.
Sekitar empat tahun yang lalu, perempuan ini pun pernah berlayar di tengah laut. Dengan sedikit hati-hati memberanikan diri untuk mulai berlayar bersama seseorang yang telah membuatnya yakin untuk melangkahkan kaki ke atas perahu. Hari berganti hari, berlayar di atas perahu itu terasa menyenangkan. Walau perahu itu terkadang bergoyang ke kiri dan kanan, berlayar tetap menyenangkan bersama orang itu. Perempuan itu terus berdo’a. Agar nantinya dapat berlayar mencapai pulau tujuan.
Tahun berganti, ombak masih selalu berderap keras. Perahu pun terkadang bocor dan terasa akan terbalik. Namun bersama orang itu, perempuan ini masih selalu berhasil untuk membuat perahu itu tetap berlayar dan terus berlayar. Namun entah mengapa, pulau tujuan terasa fatamorgana. Kadang terlihat mendekat, kadang menjauh. ‘Setidaknya, perahu masih tetap berlayar’. Pikir perempuan itu.
Hingga terjadi badai yang membuat perahu perempuan ini yang bergoyang sangat kencang hingga perahu ini pun terbalik. Perempuan ini menangis, berusaha membuat perahu tetap berlayar. Nihil, kekuatan perempuan ini tidak cukup. Sedang seseorang yang bersamanya berlayar memilih melompat ke perahu yang tengah mendekat. Meninggalkan perempuan ini sendirian. Perempuan ini tidak mungkin untuk tetap berlayar di atas perahu yang bahkan sudah hancur. Perlahan perempuan ini akhirnya berenang kembali mencapai pesisir.
Pulau itu tinggal impian. Sedang seseorang yang dulunya mengajaknya berlayar masih terlihat melompat dari perahu satu ke perahu lain. Perempuan ini menyaksikan dalam diam. Terduduk di pesisir. Beberapa orang kembali berdatangan membawa perahu untuk mengajak perempuan ini berlayar. Namun perempuan ini kehilangan kepercayaan pada perahu-perahu yang mereka perlihatkan. Perempuan ini tidak ingin lagi dengan perahu yang hanya bisa membawanya ke tengah laut, namun tidak sanggup untuk berlayar hingga ke pulau tujuan. Perempuan ini sudah tidak sanggup lagi untuk berenang kembali mencapai pesisir sedang melompat ke perahu lain terasa terlalu menyiksa untuknya.
Perahu itu merupakan apa yang kita punya sehingga kita berani untuk berlayar bersama. Bermimpi untuk bisa mencapai pulau itu. Haruskah saya lagi-lagi menyalahkan ombak yang berderap terlalu keras, atau angin yang bertiup terlalu kencang hingga mengoyakkan perahu kita? Atau haruskah saya lagi-lagi menyalahkan Anda yang meninggalkan saya sendirian di tengah laut berombak ini? Atau perahu kita yang terlalu rapuh untuk laut yang kejam ini?
Saya terlalu lelah untuk menyalahkan siapa-siapa. Pun, sudah bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan. Selamat berlayar untukmu. Berhentilah melompat-lompat kesana kemari. Semoga mencapai pulau itu.
Dua tahun berlalu. Perempuan ini masih menanti di pesisir. Untuk perahu kokoh dan seseorang yang tidak hanya berani membawanya ke tengah laut, namun tetap bersamanya mencapai pulau tujuan walaupun hanya dengan berenang sekalipun.
Nusa Indah, 20.15 WITA
February,
17th 2015
-Annisa Nurul Mukhlisa